Bab Pertama juzuk ke 3Siyarus Salikin
SiyarusSalikin
💢Makna Nafsu Menurut Ulama Tasawuf
Nafsu mempunyai dua makna utama:
1. Makna pertama ialah nafsu ammarah,
iaitu kekuatan dalam diri manusia yang menghimpunkan sifat marah, syahwat, dan segala sifat tercela. Inilah yang dimaksudkan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam sabdanya:
"Musuhmu yang paling berat adalah nafsumu yang berada antara dua rusukmu."
Nafsu ini sangat cenderung kepada maksiat dan kejahatan, seperti yang disebut dalam kisah Nabi Yusuf عليه السلام:
"Sesungguhnya nafsu itu sangat menyuruh kepada kejahatan."
2. Makna kedua ialah lathifah rabbaniyyah,
iaitu jisim halus yang berasal daripada perbuatan Tuhan. Ia juga disebut sebagai roh dan qalbu, dan merupakan hakikat insan yang membezakan manusia daripada haiwan. Ia bersifat nurani, tidak kasar seperti jisim fizikal, dan tempatnya di dalam hati (shanubari). Ia meresap ke seluruh tubuh dan anggota, menjadi pusat kesedaran dan spiritual manusia.
Martabat Nafsu dalam Perjalanan Suluk
Nafsu manusia melalui beberapa peringkat dalam proses penyucian jiwa:
- Nafsu Ammarah:
Nafsu yang paling rendah, suka kepada maksiat dan kejahatan. Ia tunduk kepada dorongan syahwat dan tidak mencela perbuatan buruk.
- Nafsu Lawwamah:
Nafsu yang mula mencela perbuatan jahat. Orang yang berada pada tahap ini masih terjebak dalam maksiat, tetapi hatinya menyesal dan tidak suka kepada kejahatan. Ia berperang dengan hawaķ
"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan redha dan diredhai. Masuklah ke dalam golongan hamba-Ku dan masuklah ke dalam syurga-Ku."
Cara Menyucikan Nafsu
Untuk mencapai martabat nafsu muthmainnah, seseorang perlu:
- Memperbanyakkan zikrullah dan wirid
- Mempelajari ilmu tasawuf, tariqat, dan suluk
- Menjauhkan diri daripada sifat batin yang tercela
- Mengamalkan ilmu yang memberi manfaat dan mendekatkan diri kepada Allah
Inilah jalan suluk yang dilalui oleh para salik, dan permulaan kepada ma'rifatullah yang sebenar.
🗯💦💦💦
🌿 Tiga Martabat Nafsu Menurut Imam al-Ghazali
1. Nafsu Ammārah (النفس الأمّارة بالسوء)
Martabat paling rendah.
- Nafsu yang sentiasa menyuruh kepada maksiat dan kejahatan.
- Tidak mengajak kepada kebaikan dan tidak mencela perbuatan buruk.
- Hati masih tenggelam dalam syahwat dan sifat tercela.
- Inilah nafsu yang menjadi musuh utama dalam diri manusia.
2. Nafsu Lawwāmah (النفس اللوّامة)
Martabat pertengahan.
- Nafsu yang mencela diri atas perbuatan maksiat.
- Tidak redha dengan kejahatan, tetapi belum tetap dalam kebaikan.
- Masih ada sifat batin seperti ujub, riya’, takbur, dan seumpamanya.
- Sering jatuh dalam maksiat zahir, kemudian menyesal dan bertaubat.
- Mencela diri apabila lalai dalam ibadah.
- Ini adalah permulaan bagi orang yang memasuki jalan tariqat, dan juga kesudahan bagi ulama yang belum menempuh jalan suluk.
3. Nafsu Muṭma’innah (النفس المطمئنة)
Martabat tertinggi.
- Hati telah tetap dalam ibadah dan kebaikan.
- Tidak cenderung kepada maksiat zahir atau batin.
- Telah suci daripada sifat tercela dan maksiat batin.
- Telah fana daripada nafsu ammarah dan lawwamah.
- Inilah permulaan bagi golongan ‘ārifīn yang telah mencapai ma‘rifatullah dengan sebenar-benar ma‘rifat.
- Akhir martabat ‘ārifīn tiada berhingga, kerana perjalanan menuju Allah tiada penghujungnya.
🧭 Tujuh Martabat Nafsu Menurut Syekh Qasim al-Halabi
Martabat Pertama Nafsu Ammarah
- Perjalanan: Kepada Allah Taala
- Alam: Alam Syahadah (alam jasmani)
- Tempat: Tidak dinyatakan khusus
- Hal: Cenderung kepada kejahatan
- Wirid: Syariat
- Sifat-sifat:
- Jahil, kikir, loba, takbur
- Gemar berkata sia-sia, marah, makan berlebihan
- Hasad, lalai, menyakitkan manusia
- Rawatan: Membanyakkan zikir dalam semua keadaan
Martabat ke dua nafsu lawwamah
- Perjalanan: Kerana Allah Taala
- Alam: Alam Barzakh (alam mitsal)
- Tempat: Di dalam hati
- Hal: Mahabbatullah (kasih kepada ibadat)
- Wirid: Ilmu Tariqat
- Sifat-sifat:
- Mencela kejahatan, menyesal atas kelalaian
- Banyak fikir, ujub, riya khafi
- Suka masyhur, suka jadi pemimpin
- Masih ada sisa sifat ammarah
- Rawatan: Membanyakkan zikir dengan kehadiran hati
Martabat Ketiga Nafsu Mulhamah
- Perjalanan: Kerana Allah Taala, dengan syuhud perbuatan Allah
- Alam: Alam Arwah
- Tempat: Di dalam roh
- Hal: Asyiq kepada Allah Taala
- Wirid: Ma'rifatullah
- Sifat-sifat:
- Murah hati, sabar, halim, memaafkan
- Menunjuk kepada kebaikan, menerima uzur
- Syuhud bahawa semua perbuatan dari qudrat Allah
- Fana af'al (fana perbuatan selain Allah)
- Rindu, menangis, enggan kepada makhluk
- Rawatan:
- Membanyakkan zikir
- Zikir nafi-itsbat:
- Hadirkan dalam hati: semata-mata wujud Allah yang mutlak
Martabat Keempat: Nafsu Muthmainnah
- Perjalanan: Serta Allah (ma'Allah)
- Alam: Haqiqat Muhammadiyyah (martabat wahdah, ta'yin awal)
- Tempat: Sir
- Hal: Hati tetap kepada Allah
- Wirid: (dengan atau tanpa huruf nida)
- Sifat:
- Al-Jud (murah hati)
- Tawakkal
- Al-Hilm (tidak cepat marah)
- Ibadat, syukur, redha, sabar
- Meniru akhlak dan sunnah Nabi ﷺ
- Maqam: Tamkin, Ainul Yaqin, Iman Kamil
Martabat Kelima: Nafsu Radiah
- Perjalanan: Fillah (dalam Allah)
- Alam: Lahut (martabat Ahadiyyah)
- Tempat: Sirrus-Sir
- Hal: Fana dari diri dan sifat basyariah
- Wirid: Tiada wirid (kerana gugur i’tibar sifat, asma, af’al)
- Sifat:
- Ikhlas, warak, redha mutlak
- Lalai dari selain Allah
- Syuhud Jamalullah
- Menunjuk jalan kebaikan, memberi nasihat
- Zikir:
- Tujuan: Tauhid Zat
Martabat Keenam: Nafsu Mardiah
- Perjalanan: Dengan Allah kepada makhluk (irsyad)
- Alam: Ajsad
- Tempat: Khafi
- Hal: Al-Hairah (kehairanan dalam ma'rifat)
- Wirid: Syariat
- Sifat:
- Lemah lembut, pemaaf, kasih kepada manusia
- Menunjuk maslahat, mengeluarkan dari kelam tabiat
- Zikir:
- Tujuan: Maqam Baqa Billah
Martabat Ketujuh: Nafsu Kamalat
- Perjalanan: Billah (dengan qudrat dan iradat Allah)
- Alam: Syuhud Wahdah dalam Kasyrah dan sebaliknya
- Tempat: Akhfa (lebih halus dari khafi)
- Hal: Baqa Billah
- Wirid: Gabungan semua wirid sebelumnya
- Sifat: Semua sifat kebajikan terdahulu
- Zikir:
- Tujuan: Maqam Wali Allah yang Kamil Mukammal
🧠 Makna Akal Menurut Tasawuf
🔹 1. Makna Pertama – Akal sebagai Ilmu
➤ Akal ialah sifat ilmu yang terbit dari hati.
➤ Ia digunakan untuk mengenal hakikat sesuatu:
- ✅ Wajib – Seperti wujud Allah dan sifat-sifatNya.
- ❌ Mustahil – Seperti adanya sekutu bagi Allah.
- ⚖️ Harus (Jaiz) – Seperti penciptaan makhluk.
📚 Rujukan: Imam Sanusi dalam Ummul Barahin.
🔹 2. Makna Kedua – Akal sebagai Jisim Halus
➤ Akal ialah lathifah rabbaniah — jisim rohani yang halus.
➤ Ia bukan ilmu itu sendiri, tetapi tempat ilmu itu terbit.
➤ Disandarkan kepada roh dan perbuatan Tuhan.
📜 Hadis:
"Awal ciptaan Allah ialah akal, lalu diperintah: 'Menghadaplah!' Maka ia menghadap. Kemudian diperintah: 'Berpalinglah!' Maka ia berpaling..."
(Riwayat al-Tabarani – Hadis dhaif)
❤️ Hati, Roh, Nafs & Akal – Satu Hakikat, Berbeza I’tibar
🕊️ Dalam makna rohani:
➤ Semuanya adalah satu hakikat: Lathifah Rabbaniah Rohaniah
➤ Iaitu jisim halus yang berasal dari perbuatan Tuhan.
🔍 Dalam makna jasmani:
- 🫀 Hati – Daging berbentuk sanubari.
- 🌫️ Roh – Seperti asap yang menghidupkan badan.
- 🔥 Nafs – Gabungan sifat marah dan syahwat.
- 🧠 Akal – Sifat ilmu dalam hati.
🌀 Tingkatan Nafs dalam Perjalanan Rohani
1️⃣ Nafs Amarah Bissu’
🔸 Melakukan maksiat zahir dan batin.
2️⃣ Nafs Lawwamah
🔸 Menyesal dan mencela kejahatan.
3️⃣ Nafs Mulhamah
🔸 Gemar ibadat zahir dan batin, tapi belum tetap.
4️⃣ Nafs Muthmainnah
🔸 Gemar dan tetap dalam ibadat zahir dan batin.



Ulasan
Catat Ulasan